Sunday, March 23, 2008

Cerita Sepeda Motor

Sabtu kemarin Saya hendak pergi ke acara farewell-nya Puri, seorang teman lama yang tinggal di daerah Meruya. Kebetulan, di rumah lagi ga ada mobil yg bisa diberdayakan untuk menemani Saya menuju rumah Puri. Padahal seringnya, tiap jalan-jalan ama temen2 Unpad, Supir Mode: ON. Jadi aja sumber daya yang tersedia saja ketika itu harus benar-benar dimanfaatkan: sebuah Honda Tiger. Oya, FYI, rumah saya tuh adanya di daerah Bekasi. Gila! Bekasi-Meruya?! Ada ya orang yg niat melakukan perjalanan sejauh itu naik motor?! Ya ada! Buktinya Saya, Gina, dan Jodi seniat itu, demi menghadiri acara teman baik kami yg minggu depan berangkat ke DC itu.

Tapi untungnya perjalanan nan jauh menggunakan sepeda motor itu tidak jadi terlaksana. Puri cukup pengertian, dia memberikan fasilitas penjemputan dengan memanfaatkan adiknya, si Hangga. Tapi, penjemputan tidak dilakukan di markas kami para orang Bekasi, tapi di daerah yg rada-rada tengah: Hotel Atlet Senayan (emang udah sejak dulu Hotel Atlet selalu jadi meeting point kami).

Jadilah perjalanan menggunakan sepeda motor hanya dilakukan dari Bekasi ke Senayan. Hanya? Ternyata lumayan jg tuh Bekasi-Senayan naik motor. Yang bikin rada cape adalah saya harus mengimbangi Jodi yang bawa skuter Vespa-nya yg kalo saya perhatiin ga pernah jalan lebih dari 60km/jam. Nah, pegel bener kan jadinya. Bayangkan, ada Tiger baru tp cm jalan di bawah 60km/jam! Dan itu tuh di jalanan Jakarta yang relatif masih sepi secara msh tersedot long weekend di daerah penghuninya. Pemandangan yang aneh.

Oke lah, skip the intro. Jadi Saya ingin menceritakan kejadian-kejadian yang terjadi dalam perjalanan rumah Saya menuju Hotel Atlet sambil menunggangi Honda Tiger baru. Jadi perjalanan sore itu adalah pertama kalinya Saya melakukan perjalanan di atas 20km menggunakan motor kopling.

Di Bandung Saya pakai Karisma 125 (saya dan teman-teman memanggilnya Isma, tp tidak ada kaitannya dengan Ishma Fatimah) tercinta yang sudah sangat melekat dengan Saya. Sejak 2004, Si Isma sudah menemani setidaknya 27000km keliling-keliling Kota Bandung dan sekitarnya (termasuk salah satu yang paling dikenang adalah tengah malam menemani ke UGD Imannuel dengan step miring, stang bengkok, dan bibir pecah). Jadi, Saya sudah sangat hafal bagaimana perilaku Isma dan tau benar gmn cara menjinakkannya.

Lain halnya dengan kejadian sabtu sore kemarin. Saya merasa masih sangat canggung dengan Honda Tiger baru si Papi. Sebelumnya sudah pernah memang, tp sebenernya itu jg cuma perjalanan pendek, beli martabak lah, atau apalah deket2 rumah. Untuk perjalanan yang cukup jauh, sore itulah pertama kalinya.

Di tengah perjalanan saya temui beberapa fakta. Pertama, ketika itu setelan gas Tiger ternyata terlalu rendah. Jadi di tengah perjalanan terutama ketika harus mendadak terhenti karena lampu merah atau angkot yang berhenti di depan secara tidak terduga, mesin motor tidak sengaja mati karena setelan gasnya rendah banget. Ah! Gampang lah pikir Saya, ntar tinggal dinaikin putaran mesinnya biar jalan lebih enak.

Fakta lainnya adalah ternyata Saya masih kurang nyaman membawa Tiger itu di jalanan sore kemarin. Begitu banyak hal baru yang harus dimaklumi dalam perjalanan Saya sore itu. Perilaku pengguna jalan Jakarta adalah salah satunya. Terbiasa dengan perilaku pengendara di Bandung yang lebih beradab, saya sedikit gugup berada di jalanan Jakarta dengan pengendara yang ternyata lebih tidak jinak dan amat sangat terburu.

Lalu, Saya akhirnya mengalami apa yang santer diberitakan media sejak minggu2 lalu: Jalan rusak di Jakarta. Benar ternyata, jalan bolong di mana-mana. Dan benar juga kalau kurang ati2, sungguh berbahaya terutama bagi para motoristas. Alhasil, laju harus diperlambat dengan lebih banyak memperhatikan kondisi jalan.

Hal lainnya yaitu Saya masih belum bisa menemukan keseimbangan yang paling enak dalam menggunakan Tiger baru ini. Lain halnya dengan Isma yang sudah Saya tau luar dalam, lagi lagi banyak hal yang harus dimaklumi saat Saya menggunakan Tiger ini.

Satu hal yang saya pelajari dari perjalanan sore itu bahwa yang terpenting adalah PROSES PEMAKLUMAN DAN ADAPTASI. Saya mungkin sudah sangat nyaman dengan motor saya si Isma yang di Bandung dan Saya juga sudah sangat terbiasa dengan jalanan Bandung beserta pengendara dan perilakunya masing-masing. Menggunakan motor baru untuk pertama kali dengan lingkungan serta medan yang baru pula tentu sedikit banyak mengintimidasi Saya dalam perjalanan itu.

Namun, beruntung Saya diberkahi hati serta pikiran. Saya merasa perbedaan-perbedaan yang saya temui antara perjalanan menggunakan motor di Bandung dengan di Jakarta masih dapat dimaklumi. Dan tentunya saya sebagai makhluk yang diberikan pikiran oleh Sang Khalik masih bisa melakukan berbagai kerekayasaan untuk menjembatani perbedaan-perbedaan tersebut.

Mengubah setelan putaran mesin, membiasakan diri dengan perilaku pengendara serta lebih berhati-hati menghadapi jalan yang rusak merupakan beberapa hal yang dapat Saya lakukan dalam memaklumi perbedaan kebiasaan. Saya tentu tidak akan bisa memaksakan kebiasaan serta cara lama dengan si Isma di Bandung dengan Tiger di Jakarta. Wong motornya aja udah beda, lingkungan udah beda, medan tempuh pun berbeda. Masa mau dipaksakan untuk sama?

Ketidaknyamanan, kecanggungan, serta konflik diri merupakan beberapa hal yang pasti timbul dalam situasi seperti itu. Namun, bukan berarti Saya harus berontak dan keluar dari sistem yang baru itu. Keluhan, komplain, serta keputusasaan tidak akan berhasil mengantarkan Saya dari Bekasi ke Senayan. Betul?

Bukankah menjalani kehidupan ini tidak beda halnya dengan perjalanan Saya sore itu? Memiliki teman baru, pacar baru, keluarga baru, lingkungan baru, pekerjaan baru menantang Saya untuk melakukan yang tadi Saya sebut sebagai PROSES PEMAKLUMAN DAN ADAPTASI. Orang lain mungkin tidak akan bisa berpikir, berujar, serta bertindak seperti yang Saya mau dan bahkan bertentangan dengan apa yang biasa Saya lakukan. Namun, apakah berarti Saya langsung berontak? Mencoba mengubah orang di sekitar Saya? Atau malahan Saya langsung kabur keluar dari sistem? Sungguh tidak bijak bila Saya melakukan itu.

Benar halnya kata Haruki Murakami dalam novelnya yang berjudul Norwegian Wood melalui seorang tokohnya Nagasawa. Ketika itu, Nagasawa berkata bahwa dia hanya ingin menjajal kemampuannya di dunia yang luas ini. Menanggapi hal tersebut bertanyalah Watanabe, “Jadi tidak ada juga apa yang disebut idealisme?”

“Tentu saja tidak,” jawab Nagasawa. “Dalam hidup tidak perlu hal seperti itu. Yang diperlukan bukan idealisme melainkan etika dalam bertingkah-laku.”

Setuju sekali Saya dengan Haruki Murakami bahwa bukan idealisme yang dibutuhkan. Fleksibilitas yang dibahasakan sebagai etika dalam bertingkah-laku merupakan rahasia umum dalam menyiasati perbedaan dan perubahan yang terjadi dalam hidup.

Pernah seorang bijak bilang bahwa “satu hal yang selalu tetap adalah perubahan”. Suka atau tidak suka, nyaman atau tidak nyaman, perubahan pasti terjadi. Menyikapi perubahan tersebutlah yang akan menunjukkan derajat kedewasaan Saya.

Ya! Adaptasi, kompromi, pemakluman, serta fleksibilitas merupakan jurus-jurus ampuh yang harus terus Saya asah dalam menjalani kehidupan ini. Karena tidak selamanya segala sesuatu berjalan seperti yang Saya mau. Dan tentunya tidak selamanya pula yang Saya mau adalah yang benar-benar Saya butuhkan. Belajar belajar serta belajar. Life is about learning, dude!!!

Monday, March 10, 2008

Siliwangi Bergoyang

Jantung keras berdegup

Panggung kokoh berdiri

Lighting terang berkilau

Distorsi garang meraung

Vokal lantang melengking

Adrenalin kencang terpacu

Lumpur lekat bercampur

Siliwangi hangat bergoyang

Heavy metal belum akan mati

Wednesday, March 5, 2008

Arrivederci, Europa! Ciao!

Lemah Terkikis Waktu

Gundah
Kecewa
Sedih

Ibarat Kuil Parthenon yang akhirnya runtuh
Pujaan hatiku harus tersingkir di awal

Pilar-pilar itu kian goyah terkikis waktu nan tanpa ampun
Wahai Sang Berlusconi, datangkan orang-orang muda bagi pujaan hatiku


Tuesday, March 4, 2008

[Untitled]

Langkah ini tak lagi menjejak
Ruang hati telah tertutup
Raung jiwa kini terbungkam

Buluh sebatang harap menggapai rembulan
Namun yang kudapat hanya sembilu
Menyelisik mentari di gelap malam
Bukan surya, namun hanya rindu

Aku memilih untuk diam

Tidak! Jangan! Aku harus bergerak!
Berlari, berlari hingga kuberpeluh!
Raga ini tidaklah karam
Jiwa ini tidaklah mati
Secercah asa nan merekah selalu menanti tuk dicari

Sunday, March 2, 2008

Nurani dan Logika

Rangkaikan titik demi titik di atas kertas ini. Rangkaian itu kini menjadi garis. Susun ulang garis tersebut menjadi suatu bentuk kurva yang lebih teratur. Kurva-kurva tersebut adalah setiap fragmen kenangan dalam hidup.

Membangun kembali kenangan masa lalu memberikan sensasi yang berbeda-beda. Satu bagian cerita hidup terkadang meminta dirinya untuk tidak dibangun kembali. Tidak. Jangan sekali-sekali lagi mencobanya. Terkubur ia dalam-dalam di palung hati. Sementara bagian lainnya seperti tak tertahankan untuk dapat dihidupkan kembali.

Kuberada di persimpangan pilihan.

Kenangan ini meronta, menjerit, memanggilku untuk dapat kembali dibawa masuk ke dalam kehidupan. Sementara diri ini menolaknya.

Perang! Hati dan pikiran tidak lagi menyatu. Duel klasik antara Nurani dan Logika tak dapat terhindarkan.

Di satu saat, pernah Nurani berada di ambang kemenangan. Logika semakin terpojok dengan manuver-manuver tak terduga dan cenderung irasional (namanya juga nurani) yang dilancarkan Nurani. Logika tidak berada di posisi yang menguntungkan.

Namun, di saat lain, ketika Logika telah mendapat kejernihannya, Nurani menjadi laksana bayangan oasis di tengah padang pasir: murni sebuah fatamorgana.

Pertarungan sengit ini serasa tidak akan pernah berakhir. Setidaknya hingga hari itu.

Nurani yang lain memasuki medan perang: sebut saja sebagai Rasa. Pintu lain dari hati ini terketuk. Selayaknya nurani pada umumnya, Logika tak dapat merasionalkan tindakan Rasa. Mengira akan kalah dalam perang karena menghadapi dua bentuk nurani, ternyata Logika salah. Dalam perang ini, Rasa ternyata berpihak pada Logika.

Logika meng-KO Nurani dengan bantuan Rasa. Kenangan lama yang sebelumnya meronta untuk masuk ke dalam kehidupan kini kembali merangsek ke sisi hati yang tak terlihat. Tetaplah menjadi satu kenangan dalam hidup ini yang senantiasa mendewasakan diri.

Tuesday, February 26, 2008

tak dapat manusia lari dari waktu

Waktu bergerak konstan: tidak cepat, tidak pula lambat. Konstan: satu hari tetaplah 24 jam, satu jam tetaplah enam puluh menit, dan satu menit tetaplah enam puluh detik. Ia sangat konsisten. Dari penciptaan alam semesta hingga berakhirnya peradaban, waktu akan tetap berada pada tempo yang sudah digariskan. Ia tidak bosan, tidak pula mengeluh.

Waktu memiliki beribu misteri. Berabad lamanya manusia mencoba memahami waktu. Manusia mempelajarinya dari aspek fisis hingga aspek mitologi dan filosofi. Bahkan pemahaman waktu coba diliat dari aspek reliji. Semakin dalam manusia menyelami dimensi waktu, semakin mabuk manusia dibuainya.

Waktu adalah suatu aspek mortal yang senantiasa menaungi manusia. Ia bak satu setel pakaian yang tak pernah bisa ditanggalkan. Ia akan terus berada di sana sepanjang hayat. Manusia lari dari masalah. Manusia lari dari kenyataan. Namun waktu akan tetap bersamanya: sungguh tak dapat manusia lari dari waktu.


Monday, February 25, 2008

Simpati untuk Eduardo Da Silva...

Sebenernya saya sudah baca berita ttg tackle maut Martin Taylor ke Eduardo Da Silva pas sabtu malem di Detik.. Dari pas baca saja saya sudah rada-rada ngeri, inget ama tackle seorang pemaen Hong Kong ke Boaz Salossa.. Tapi br sempet liat video-nya beberapa saat yg lalu.. Kengerian saya terbukti dengan liat video tackle tersebut (WARNING! THIS MAY BE A VERY DISTURBING VIDEO!) di YouTube yg saya dpt dr blog agung wahyudi..

Setelah nonton video itu, kengerian saya bertambah dengan rasa kesal yang teramat sangat kepada Martin Taylor.. Dia melakukan sebuah tackle yang mungkin saja akan mengakhiri karir pemain lain.. Sejujurnya saya merinding saat menonton video tackle tersebut. Saya membayangkan karir Eduardio ke depannya.. Bukan saja hampir pasti tidak akan bermain di Euro 2008 bagi Kroasia, tapi apakah Eduardo dapat terus bermain sepak bola?

Saya berharap FA dapat memberikan hukuman yang setimpal atas perbuatan Taylor kepada Eduardo.. Terlebih dari itu, saya berharap Eduardo dapat kembali merumput..